• Indonesia harus mau belajar dari negeri-negeri Barat dalam soal supremasi ilmu pengetahuan.
    - Eddie Lembong -
  • Faktor penyumbang kemajuan sebuah bangsa datang dari budaya bangsa itu sendiri.
    - Eddie Lembong -
  • Budaya adalah panacea bagi kondisi bangsa yang semrawut saat ini.
    - Eddie Lembong -
  • Bangsa kita bangsa yang besar dan kaya raya. Seharusnya kita mampu mengelola itu untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
    - Eddie Lembong -
  • Kemajemukan membawa konsekuensi kepada kita untuk siap dan selalu bisa menerima keberagaman tanpa tendensi untuk mendominasi lewat cara apapun.
    - Eddie Lembong -
  • Membangun karakter bangsa memang bukan proyek jangka pendek, ia adalah megaproyek yang harus terus dirawat dan tanpa jeda didiskusikan.
    - Eddie Lembong -
Bintang Mahaputra Adipradana untuk Tokoh Pejuang A.R. Baswedan

Bintang Mahaputra Adipradana untuk Tokoh Pejuang A.R. Baswedan

16 December 2017   by admin

Ada satu hal yang terlewatkan dalam Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan RI di Istana Negara oleh Presiden SBY tahun ini. Tanggal 13/8/13 yang lalu pemerintah memberikan Bintang Tanda Jasa kepada sejumlah tokoh yang dinilai telah memberikan jasa kepada Negara melalui Keppres no. 57/TK/2013. Dari 11 penerima Bintang Mahaputra Adipradana, -- tanda penghargaan tertinggi diantara penghargaan lainnya yang diberikan pada hari itu—ada satu nama yang layak dibicarakan, yakni almarhum Abdul Rahman Baswedan (1908-1986) selaku tokoh pejuang dari D.I. Yogyakarta. Bintang Mahaputra Adipradana adalah tanda kehormatan yang diberikan Presiden kepada seseorang yang dinilai mempunyai jasa besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Hadir menerima penghargaan selaku wakil keluarga Baswedan adalah putranya: Dr Samhari Baswedan dan cucunya: DR Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Mereka berdua didampingi pihak pengusul (Yayasan Nabil), yakni Bapak Eddie Lembong dan Ibu Melly Saliman.

Siapakah A.R. Baswedan? Ia adalah seorang Nation Builder (Pembangun Bangsa) berlatar belakang keturunan Arab, yang sejak semula memiliki cita-cita meng-Indonesia. Untuk itu, tanggal 4 Oktober 1934 Baswedan dan kawan-kawannya menyelenggarakan “Sumpah Pemuda Keturunan Arab”, yang menegaskan bahwa tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. Di masa pergerakan nasional, Baswedan berjuang secara politik melalui Partai Arab Indonesia (PAI) yang didirikannya di tahun 1934, sebagai hasil dari interaksinya dengan Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia (1932) yang pro pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baswedan juga salah satu Founding Father (Bapak Bangsa) Republik Indonesia, karena keikutsertaannya dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), badan yang merancang Undang-undang Dasar 1945. Ia diangkat sebagai Menteri Muda Penerangan dalam Kabinet Syahrir III (1946-1947). Terakhir, di bidang diplomasi, Baswedan juga turut memperjuangkan pengakuan diplomatik yang pertama dari Kerajaan Mesir di tahun 1947. Dengan berani ia menyelundupkan dokumen perjanjian diplomatik yang amat penting itu melewati penjagaan Belanda dan menyerahkannya kepada Presiden Soekarno.

Membaca sumbangsih Baswedan yang luarbiasa di atas, Yayasan Nabil merasa terkejut ketika menemukan kenyataan, bahwa hingga hari ini belum ada Pahlawan Nasional dari golongan keturunan Arab! Atas dasar-dasar pertimbangan di atas, Yayasan Nabil tanpa ragu-ragu mengusulkan Almarhum A.R. Baswedan menjadi Pahlawan Nasional. Pengusulan ini telah melewati kajian secara ilmiah melalui rangkaian tiga Seminar Nasional di tahun 2011 yakni di Universitas Airlangga (Surabaya); Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Jakarta), seperti yang sudah dilaporkan dalam Nabil Forum III (Juli 2011). Alangkah indahnya, bila Baswedan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, maka semakin cantik dan berwarna-warnilah taman bunga kebangsaan Indonesia. Apalagi sejak tahun 2009 sudah ada Pahlawan Nasional dari golongan Tionghoa, yaitu alm. Laksamana Muda TNI AL (Pur.), John Lie, yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional dari daerah Sulawesi Utara, antara lain karena usulan dari Yayasan Nabil. Walaupun cita-cita menjadikan Abdul Rahman Baswedan sebagai Pahlawan Nasional belum berhasil, namun Yayasan Nabil tetap berkomitmen untuk terus turut serta dalam proses Nation Building Indonesia, termasuk menghargai mereka yang berjasa pada bangsa ini tanpa memandang asal-usulnya. ***
Lomba Penulisan CCF 2015
scroll to top