• Indonesia harus mau belajar dari negeri-negeri Barat dalam soal supremasi ilmu pengetahuan.
    - Eddie Lembong -
  • Faktor penyumbang kemajuan sebuah bangsa datang dari budaya bangsa itu sendiri.
    - Eddie Lembong -
  • Budaya adalah panacea bagi kondisi bangsa yang semrawut saat ini.
    - Eddie Lembong -
  • Bangsa kita bangsa yang besar dan kaya raya. Seharusnya kita mampu mengelola itu untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
    - Eddie Lembong -
  • Kemajemukan membawa konsekuensi kepada kita untuk siap dan selalu bisa menerima keberagaman tanpa tendensi untuk mendominasi lewat cara apapun.
    - Eddie Lembong -
  • Membangun karakter bangsa memang bukan proyek jangka pendek, ia adalah megaproyek yang harus terus dirawat dan tanpa jeda didiskusikan.
    - Eddie Lembong -
Etos dan Etika Kerja Bangsa-bangsa Asia Timur

Etos dan Etika Kerja Bangsa-bangsa Asia Timur

29 June 2017   by admin
 Oleh : Bob Widyahartono

Bangsa Asia Timur, khususnya China, Jepang dan Korea Selatan, telah memperlihatkan dinamikanya yang sangat tinggi. Nilai-nilai budaya serta norma dalam keluarga ternyata telah menjiwai semangat kerja dengan produktivitas tinggi. Dengan menelaah ketiga bangsa tersebut, terbuka peluang untuk berperan membuka diri menyerap yang positif dari mereka.

Bangsa Asia Timur yakni China, Jepang dan Korea Selatan sejak lama memberikan perhatian besar terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Sejak dari lingkungan keluarga, mereka menyerap nilai-nilai moral yang menjunjung tinggi semangat bekerja keras, berdedikasi tinggi dan mampu beradaptasi dengan perubahan sekitarnya. Nilai-nilai itu tertanam dan dijaga dalam perilaku sehari-hari dan bukan sekedar untuk ‘pencitraan diri’

Apakah budaya produktivitas tersebut lahir dengan sendirinya atau melalui pendidikan formal dan ditanam oleh lingkungan keluarga dalam masyarakat (society education) ? Marilah kita mengamati beberapa unsur yang menarik dalam arti pencerahan diri dalam kelompok-kelompok kecil dari masing-masing ketiga negara tersebut. Dengan langkah-langkah segar dan memperbaharui diri sejak akhir tahun 1990-an, terungkap mereka dapat memantapkan paradigma baru dalam sikap dan sifat beretika dengan etos kerja baru.

China

Di China, sejak dulu kala dalam suasana rumah setiap individu menghayati :

1) kewajiban menjunjung tinggi nama keluarga dan tentunya bangsa,
2) menerima disiplin kerja ;
3) ketakutan berada dalam suasana tidak nyaman (fear of insecurity) memasuki masa depan ;
4) orientasi mengelompok, awalnya fungsional dan dengan kemajuan sarana komunikasi, termasuk teknologi informasi, menjadi lintas fungsional ;
5) menumbuhkan jaringan kerja yang saling mendukung dan saling menguntungkan atas dasar saling percaya dengan menjunjung tinggi tata krama dan etika. Berprestasi dulu, kemudian baru penghargaan menyusul.

Dalam sejarah bangsa China, apalagi sejak dasawarsa 1980-an, terhitung bangsa yang tidak banyak ‘tuntutan hasil prestasi’, baik di tingkat bawah maupun eselon menengah sampai ke puncak pimpinan. Bonus akan mengalir bagi prestasi prima. Umumnya mereka tidak cepat lelah (tireless workers).

Sejak tahun 1980an dengan kebijakan terbuka dan reformasi (gaige kaifang), bangsa China mengejar ketinggalan mereka dengan semangat kerja, dalam banyak situasi dan kondisi bekerja dalam semangat berkelompok (group orientation). Sama dengan dasarnya bangsa Jepang dan Korea, bekerja keras untuk kepentingan dan kesejahteraan kelompok termasuk individual, demi peningkatan kesejahteraan keluarga, termasuk harmoni dengan sekelilingnya.

Ajaran Konfusius yang pernah dihambat dalam eranya Mao Zedong (1949-1976), sejak awal 1980-an kembali dengan semangat baru yang melandasi etos kerja dan etika China. Bekerja keras, tidak hanya karena mereka dididik untuk menghargai kerja keras, tetapi demi peningkatan penghidupan dan derajat sosial (social esteem). Keberhasilan melalui kerja keras, sekalipun hasilnya mengalami kegagalan, untuk menghargai jerih payah leluhur mereka.

Bekerja keras, tidak hanya karena mereka dididik untuk menghargai kerja keras, tetapi demi peningkatan penghidupan dan derajat sosial (social esteem). Keberhasilan melalui kerja keras, sekalipun hasilnya mengalami kegagalan, untuk menghargai jerih payah leluhur mereka.

Jepang

Masyarakat Jepang memiliki jiwa atau semangat makoto (bersungguh sungguh) dengan menjunjung tinggi kemurnian batin dan motivasi , serta menolak adanya tujuan berkaryanya semata-mata demi menonjolkan kepentingan diri sendiri. Ada yang menyebut bermental ‘samurai ‘ sebagai keteguhan hati untuk mencapai sesuatu tujuan dalam bertindak yang pantang menyerah, karena sebelum menghunus ‘samurai’ sudah dipikirkan matang.

Satu etos kerja dengan landasan etika dengan menyerap beberapa ungkapan yang diajarkan oleh biarawan Zen, Suzuki Shosan (1579-1655). Kalau ditarik ke depan, maka hal yang menarik adalah bahwa budaya Konfusianisme dan Zen Buddhisme mempunyai dampak dalam masyarakat Jepang sampai dewasa ini.

Suzuki Shosan menganggap keserakahan sebagai “pengejaran kekayaan” merupakan racun rohani, meskipin pada saat yang sama “pekerjaan merupakan praktek Buddhisme ”. Melalui berkarya manusia mampu mencapai "kebudhaan”. Ia memandang pekerjaan duniawi sebagai bentuk asketisme atau laku tapa. Setelah itu dalam era Tokugawa dan Meiji terungkap unsur humanisme yang menjiwai etos kerja yang dijiwai semangat makoto dan berlangsung hingga kini.

Individu Jepang umumya tidak pernah bersentuhan dengan aliran etika Protestan, yang menurut Max Weber merupakan cikal bakal etika kapitalisme. Tanpa memahami Injil Kristen masyarakat Jepang telah mengembangkan sistem kapitalisme sendiri dan kenyataan, meskipun jiwa kapitalisme Jepang berbeda dengan Barat. Banyak peneliti Asia luar Jepang-- termasuk Indonesia -- baru belakangan ini menyadari semangat Jepang yang menjiwai penerapan kapitalisme di negara itu, yang bukan berbentuk ‘neo-liberalisme’, melainkan lebih dikenal sebagai kapitalisme humanistik.

Korea Selatan

Bangsa Korea Selatan dengan semangat etos kerja ‘hahn’ merupakan keunikan tersendiri. Semangat itu mengungkapkan suatu daya psikologis (psychic force).

Boye De Mente (peneliti masyarakat Asia Timur tahun 1990an) jauh-jauh hari menyebut hahn merupakan suatu energi yang menggerakkan hasrat berpendidikan, bekerja dengan tekad tak kenal menyerah (boldness), berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki disiplin tinggi. Sekalipun mencurahkan dana dan daya serta waktu, tetap mengorbankan diri untuk peningkatan mutu kehidupan dan penghidupan keluarga dan negara.

Semangat “hahn”, mereka lengkapi dengan ungkapan “koenchanayo” artinya “baiklah, sudah cukup baik” (alright that is good enough), sekalipun sesuatu belum sesuai hasil yang dikerjakan. Mulai sekarang, perbaiki diri dalam berkarya.

Perilaku dasar dan karakter (basic conduct and character) orang Korea Selatan itu dapat ditelusuri dalam dasar dasar dan ajaran Konfusius, yang juga meresapi budaya negara secara sosial dan politis sejak enam abad lalu .

Walaupun budaya di daerah perkotaan Korea Selatan tampak mendapatkan pengaruh Barat (Amerika) sejak 1950-an, , namun jiwa perilaku dan sikap dasar --termasuk mereka yang tinggal di luar kota atau daerah pedesaan-- masih tetap terjaga. Tetap adanya respek pada yang lebih memiliki wewenang, yang lebih tua dan yang terpelajar. Nilai-nilai dalam keluarga, seperti harmoni, tetap dijaga.

Demikian pula dengan standar etika seperti bersikap jujur, memegang janji, dan menghargai waktu pihak ketiga. Etos kerja memunculkan produktivitas dalam karya. Ini bukan berarti tidak ada kekecualian.

Tiga “Quotient”

Masyarakat bisnis dan organisasi kemasyarakatan kita terutama tingkatan kelas puncak,menengah (middle class) dan penyelia/supervisor yang dalam organisasi sebagai penggerak, perlu secara berkesinambungan menyadari dan memahami perilaku etos kerja bangsa-bangsa Asia Timur itu, khususnya nilai-nilai positif yang telah menjiwai budaya produktivitas tinggi mereka. Artinya “There is no end in learning and re-learning” dalam kelompok-kelompok lintas fungsional, baik dalam suasana kerja intern organisasi, maupun di luar kungkungan/pasung organisasi saling berbagi (sharing) dalam membangun :

IQ (Intelligence Quotient), kesadaran dan kemampuan intelektual yang makin dibutuhkan setiap anggota manajemen puncak, menengah sampai penyelia. Dengan demikian berkembanglah pemahaman yang semakin matang bagi setiap manajer terhadap kebutuhan, tantangan dan sasaran-sasaran organisasi ;

EQ (Emotional Quotient), belajar membangun dalam diri sikap positif pada kehidupan dan kerjasama dengan pihak ketiga ;

TQ (Tenacity Quotient), perilaku ketekunan dalam menghadapi benturan-benturan (bumps) dalam menjalani hidup dan tidak mudah menjadi putus asa (depressed) karena harus menjalani benturan itu. TQ sebagai pengertian, pernah diungkapkan oleh Yang Mianmian, Wakil Pimpinan Industri Haier Group, 1992-an, dengan sikap ketenangan “patience is a virtue” , namun tetap menghargai waktu, tidak tergesa-gesa tanpa kehilangan fokus dalam berstrategi..

Generasi muda Indonesia, baik yang sudah duduk dalam manajemen puncak/menengah, demikian pula para penyelia/supervisor, perlu menarik pelajaran nyata dari semangat yang menjiwai SDM ketiga bangsa tersebut. Artinya mereka perlu menghayati bahwa kesabaran adalah suatu kebajikan (patience is a virtue) dengan menanggalkan segala ketergesaan yang tidak keruan, dan yang mau mulai belajar kembali tanpa sikap curiga dan sifat ‘bosan’ (*)
Lomba Penulisan CCF 2015
scroll to top