• Indonesia harus mau belajar dari negeri-negeri Barat dalam soal supremasi ilmu pengetahuan.
    - Eddie Lembong -
  • Faktor penyumbang kemajuan sebuah bangsa datang dari budaya bangsa itu sendiri.
    - Eddie Lembong -
  • Budaya adalah panacea bagi kondisi bangsa yang semrawut saat ini.
    - Eddie Lembong -
  • Bangsa kita bangsa yang besar dan kaya raya. Seharusnya kita mampu mengelola itu untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
    - Eddie Lembong -
  • Kemajemukan membawa konsekuensi kepada kita untuk siap dan selalu bisa menerima keberagaman tanpa tendensi untuk mendominasi lewat cara apapun.
    - Eddie Lembong -
  • Membangun karakter bangsa memang bukan proyek jangka pendek, ia adalah megaproyek yang harus terus dirawat dan tanpa jeda didiskusikan.
    - Eddie Lembong -
Telah Terbit:

Telah Terbit: "Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran" (2014)

24 October 2017   by admin
Dalam rangka HUT Tentara Nasional Indonesia 2014, kembali Yayasan Nabil mempersembahkan buku bermutu: Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesia

Penulis: Iwan Santosa
Editor: Didi Kwartanada
Pengantar: Laksamana TNI (Pur.) Bernard Kent Sondakh
Sekapur Sirih: Eddie Lembong
Penerbit : Kompas-Yayasan Nabil
Cetakan: I, 2014
ISBN: 978-979-709-871-1
Harga: Rp. 63,000

***Buku akan beredar di Gramedia mulai 20 Oktober 2014*** 


Untuk pemesanan, silakan hubungi email: Sekretariat@nabilfoundation.org


"Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta
dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara."
(Pasal 30 Ayat 1 UUD 1945)
*****

Buku ini mengungkap fakta sejarah yang tak banyak diketahui. Keterlibatan warga Tionghoa dalam berbagai aktivitas kemiliteran di Nusantara ternyata telah berlangsung lebih dari satu milenium. Patriot-patriot berkulit kuning telah ikut berjuang bersama kaum pribumi sejak zaman pra-kolonial, kolonial, Perang Kemerdekaan RI (1945-1949), masa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966), sampai masa Operasi Seroja Timtim (1976). Banyak diantaranya diantaranya kemudian dilupakan, namun ada juga yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dari Sabang sampai Merauke.

Prajurit dan panglima Tionghoa --€”Totok mupun Peranakan--”antara lain pernah ikut ambil bagian dalam aksi penyerbuan armada laut Jepara ke Malaka (abad ke-16); "Geger Pacinan" atau perang Jawa-Tionghoa melawan VOC-Belanda (abad ke-18); dan Perang Kongsi di Kalimantan Barat (abad ke-19).

Tahukah Anda bahwa dalam sejarah kemiliteran Indonesia pernah ada: laskar Pemberontak Tiong Hoa di Surakarta serta Laskar Pemuda Tionghoa€ yang mendukung Proklamasi 1945;  tokoh John Lie, pahlawan Angkatan Laut yang menjadi Pahlawan Nasional (2009) ; dan para perwira Tionghoa alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dari matra darat, laut dan udara ?

Buku ini berupaya memperbaiki ingatan kebangsaan tentang peran masyarakat Tionghoa sebagai salah satu elemen bangsa Indonesia modern yang bersatu, berdaulat, dan setara.

***

Yayasan Nabil berharap buku ini akan mampu œmembuka mata€ masyarakat luas, bahwa etnik Tionghoa bukanlah semata €œeconomic animal€ yang hanya menghabiskan hidupnya berkutat dengan uang dan bisnis saja. Namun mereka juga merupakan share holder (pemegang saham) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang ikut membangun dan mendirikan Republik Indonesia, serta kemudian ikut mengawal Ibu Pertiwi di darat, laut dan udara, bahkan mereka pun tidak segan mengorbankan miliknya yang paling berharga-- nyawa mereka-- demi kecintaannya pada tanah air Indonesia!
Lomba Penulisan CCF 2015
scroll to top